Makin hari jujur rasanya kehidupan ini makin melelahkan dan memusingkan, walaupun kata orang hidup itu harus easy going jangan pernah dibawa susah, namun kenyataannya tetap kita yang merasakan juga. Titik terendah seseorang itu tidak bisa disamakan.

Usia 30 kebawah rasanya emosi dalam diri tidak terbendung sama sekali, tetap teguh pendirian dan tidak ingin orang lain mengubahnya, padahal pendapat orang lain juga perlu untuk kedepannya melangkah, walaupun tidak harus digunakan. Dan itu masih terjadi pada diri ini hingga saat ini, namun manusia itu perlu perubahan kearah yang lebih baik lagi, tidak serta merta selalu mengikuti emosi diri.

MENJADI PRIBADI YANG MENDENGARKAN

Menghargai pendapat orang lain itu sangat penting, dengan kita mendengarkan saja sudah memberikan empati yang lebih terhadap orang itu, apalagi kita merespon kembali dengan pendapat kita. Ada kalanya pendapat orang lain itu sebenarnya tidak sama dengan apa yang dipikiran kita sendiri, dulu saya selalu membantah dan menjadikan pendapat sendiri itu lebih baik. Kali ini ingin sekali mencoba untuk mendengarkan pendapat orang lain, walapun tidak di-iyakan juga tidak masalah, toh juga kita tidak selalu harus mengikuti pendapatnya. Juga selalu menjadikan pendapat orang lain itu sebagai masukan dan juga referensi pribadi.

TIDAK GURUNG GUSUH

Mungkin ini tipikal saya saat masih muda, masih semangat-semangatnya baik itu dalam pekerjaan maupun menjalani hidup, semuanya harus perfect bagaimanapun caranya. Kadang hasil juga tidak selalu sesuai dengan ekspetasi, yang pada akhirnya muncullah kekecewaan.

Dari hal ini saya menyadari bahwa keputusan yang diambil mungkin terlalu cepat, harus dikritisi ulang agar dapat keputusan yang matang, semakin dewasa hidup ini semakin banyak yang kita tahu dan itu bisa menjadi pengalaman yang berharga bagi saya pribadi.

MENGALIR APA ADANYA

Hal terakhir yang menjadi pedoman hidup diusia yang sudah tidak muda ini adalah berusaha menjalani hidup apa adanya, tidak terlalu banyak neko-neko, karena tahu jika suatu pencapaian tidak berhasil maka sakit hati itu membuat luka dan trauma tersendiri, sehingga enggan melakukan rencana pencapaian kedepannya.

Jadi, kesimpulannya menjadi hidup lebih baik itu berasal dari sendiri, bukan dari standar orang lain.